Archive for February 4th, 2007

04
Feb

Annyong-hi gyeseyo SBY

Annyong-hi gyeseyo SBY

MOHAMMAD HAMDAN

Annyong-hi gyeseyo dalam bahasaKorea

berarti selamat tinggal. Sedangkan SBY sama-sama kita tahu bahwa saat ini ialah presiden RI saat ini. Presiden pertama dalam sejarah demokrasi kita yang dipilih secara langsung. Dan ini tentu sebuah buah dari perjalanan demokrasi yang “lumayan” cepat dan berhasil.

Dari tahun pertama menjabat sebagai presiden hingga hari ini kita sangat-sangat prihatin, dan terus menerus mengurut dada. betapa tidak. karena dialah Presiden yang setiap harinya “mengurus” bencana. mulai dari gempa di merauke, tidak lama Tsunami, dan tidak lama wabah Flu burung, tidak lama kemudian disusul kecelakaan kereta, tiba-tiba meledaklah Lumpur lapindo, milik seorang anggota cabinet. Disusul pula kecelakaan kapal laut. dan ironis 2007 ini diawali sebagai tahun bencana dengan “raibnya” Adam Air. yang konon katanya juga dimiliki petinggi negeri ini. dan disusul pula bencana gempa disepanjang nusantara. dan tidak kalah melelahkanya. Banjir.

Presiden Bencana

Saya kira tidak ada yang lebih melelahkan dari kerja pemimpin-pemimpin kita sebelumnya dibanding kerja SBY saat ini terutama sekali dalam hal mengurus bencana. dan meski sangat ingin menghindari, namun tidak juga bisa ditampik bahwa SBY adalah presiden bencana.

kerja yang begitu melelahkan tentulah sebuah “takdir” sebagai presiden. namun ditambah dengan serangkaian bencana tidak bisa di hindari bahwa hal tersebut tentu kian menambah bobot turunnya akselerasi kinerja pembangunan.

alih-alih bisa kerja untuk fokus pada masalah penganguran, bila saat bersamaan harus mengurus Adam Air, alih-alih bisa memulai dan menebar kinerja disaat bersamaan Tsunami datang. dan seterusnya-dan seterusnya.

Skeptisisme

George Santayana dalam “Skepticism and Animal Faith” menuliskan ; “Sikap skeptis , dalam mempertanyakan segala sesuatu, merupakan benteng kemurnian cendekiawan, dan sangat memalukan jika benteng itu diserahkan terlalu cepat atau pada siapapun yang datang lebih dahulu—ada kemulian dalam menjaga benteng itu dengan sikap tenang dan rasa bangga melewati masa muda yang panjang, sampai akhirnya, benteng itu bisa dengan aman dipertukarkan dengan kebenaran”.

Pendapat George Santayana ini, buat saya memberikan dua ruang berpikir. apakah terlalu cepat kita memberikan cap SBY sebagai Presiden bencana. atau jangan-jangan pada awalnya rakyatlah yang harus di salahkan karena terlalu menggantungkan harapan-harapan besar pada SBY.

Dan kira saya piker harus melumatkan cara berpikir yangpertama karena proses berpikir ini mungkin saja bisa tidak relevan. Dan tidak fungsional untuk menyelesaikan persoalan, tapi setidaknya skeptisisme memang diperlukan untuk tidak memperlakukan masa depan dengan gegabah. termasuk saya kira perjalanan bangsa ini yang terlampau rumit untuk bisa di urai dan diselesaikan satu demi satu.

Jenis “Masalah”

Disatu sisi memang ada persoalan yang datangnya dari “langit” namun disisi lain, ada banyak sekali kekeliruan yang memang secara mata telanjang dilakukan dengan kecermatan yang minimal dengan tingkat profesionalisme yang amburadul. jika Tsunami memang datang dari “langit”.   Lalu bagaimana menjelaskan kasus Haji kelaparannya. jika Adam Air mungkin kecerobohan setengah manusia dan sisanya Takdir lalu bagimana dengan keluarnya dan ditarik kembalinya PP 37 tahun 2006. Khilaf?

Ini tentu dapat memberikan kejelasan, ada korelasi yang mulai terlihat sebagai kecompang campingannya pemerintahan ini dikelola. Sehingga bukan tidak mungkin banyak sekali keanehan yang akan muncul dan semakin terlihat kontradiktif satu sama lain. Disatu sisi   berniat sungguh-sungguh melawan korupsi, namun disisi lain seorang Koruptor yang sangat kemaruk. bisa “lolos” kembali menjadi gubernur.

Jika kita mau jujur untuk mengevaluasi terhadap kinerja pemerintahan saat ini pantas memunculkan sebuah kesimpulan ; betapa tragisnya nasib bangsa bila kekuasaan yang ada saat ini di tangan SBY-JK tidak mampu memfokuskan dirinya untuk memberikan manifestasi dari janji-janji untuk memulihkan perekonomian nasional. Bagaimana kita bisa menyatakan ekonomi telah pulih, apabila inflasi berlangsung tinggi, pertumbuhan berlangsung rendah, Dan persentasi kemiskinan menanjak. Sector real tidak bergerak, pengangguran meluas, perbankan tidak berfungsi, otonomi daerah yang saat ini sekedar retorika belaka dan KKN yang justru makin dominan dalam kehidupan bernegara. Dengan modus yang semakin tidak pernah terbayangkan pada era sebelumnya.

Untuk itu sebagai rakyat biasa kita hanya dapat berharap, semoga tidak terjadi kutukan yang mengerikan terhadap bangsa dan negara ini. Meski demikian kita perlu teramat hati-hati dan tidak mudah memberikan cap terhadap pemerintahan saat ini seraya berpikir ulang untuk tidak cepat juga menggantungkan harapan-harapan yang muluk kepada pemimpin manapun.

Waspadalah sebagai warga Negara dalam menjatuhkan pilihan. Dan terlebih lagi Hati-hati agar bangsa ini tidak terpikir untuk mengucapkan “Selamat Tinggal SBY”. Dalam bahasa Koreanya. Annyong-hi gyeseyo SBY.